Air Mata Surga

Desir angin malam selimuti hati, sinar rembulan menerobos dedaunan pohon depan halaman, ku duduk terpaku membisu.

Tiba-tiba, suara lembut itu menghampiri telingaku, membisikkan sesuatu, karna itu nadi ku membeku:

\”a\’ ade sayang aa”,

kata itu tak hanya membekukan nadi ku, tapi juga menghentikan perputaran rembulan,

\”iya de, aa juga sayang ade”,

Wanita yang ku damba, ahirnya halal juga bagiku, setelah ku pinang dia dengan basmalah.

Ku baru sadari hakikat cinta suci.

Dia, satu-satunya wanita yang memahami dan dapat ku pahami, dialah belahan hati, yang tak rela tuk meningglkannya walau sesaat saja. Angin malam kembali meniupkan getaran-getaran tuhan, di iringi senandung merdu tahun 70.

Tak rela rasanya ku lalui malam ini begitu saja, tanpa ada rangkaian sajak-sajak merdu, aku juga tak mau kalah, sajak cinta Emha kepada Novia saja begitu mesra, sajak ku padanya?, janganlah lagi kau Tanya.

Awan hitam telah pergi, berganti awan putih legi hiasi malam indah ini.

Lagi-lagi desir angin menghempaskan nafas cinta, menggoyangkan pohon mangga yang di bawahnya aku dan dia duduk bersua. Terkagetlah aku saat tiba-tiba dia meneteskan air mata, saat ku Tanya, \”mengapa kau teteskan air mata sayang?”, dia hadapkan mata beningnya dan berkata, \”akankah kita masih tetap bersama di surga sana a’, ade takut kehilangan aa?, katanya dengan nada manja, ku tersenyum padanya, ku buka kaca matanya dan ku usap air mata yang mengalir di pipinya, \”Insyaallah sayang kita kan selalu bersama, walau terbentang jarak antara kita, hilangkan semua kegelisahan hatimu, mari kita titipkan cinta kita pada Allah ta\’ala”, ujarkan padanya.

Facebook Comments

   

  2 Responses

  1. ahm,.. sinetron buanget,.. “kupinang dengan bismilah”
    ade ya?? uhuk2,.masa lalu apa future ya???

    SeLLa - November 5th, 2011 at 3:01 am      
    • @SeLLa: masa depan kali ya?, hehehe

      Semut Smart - November 16th, 2011 at 9:27 am