Modernisasi yang Keliru

Pada intinya modernisasi adalah perubahan yang terjadi di dalam masyarakat  traditional menjadi masyarakat modern. Dan  ada dua faktor yang menjadi ciri dari masyarakat modern, yang pertama adalah dilihat dari lingkup ekstern yaitu adanya masalah lingkungan, urbanisasi, pendidikan, politik, komunikasi dan industri. Dan yang kedua di lihat dari lingkup intern yaitu adanya sikap, nilai dan perasaan.

Menurut hemat saya, kebanyakan dari masyarakat Indonesia salah arti dalam menafsiri Modernisasi itu sendiri, mereka mencampuradukan  antara modernisasi dan westernisasi, yang pada hakekatnya adalah jauh berbeda. Westernisasi yaitu peniruan gaya dan budaya orang barat secara berlebihan, seperti halnya pada bidang fashion, lifestyle, dll.

Dewasa ini, sepertinya tidak ada lagi para kaum wanita yang memakai pakaian yang katakanlah menutup aurat, itu hanya contoh kecilnya saja, padahal orang yang ke barat-baratan belum tentu modern. Malah orang-orang yang model seperti ini justru menghambat proses modernisasi, seperti boros, bergaya foedal, kurang disiplin, dan lain sebagainya.

Jadi, modernisasi bisa saja dilakukan dengan cara kita mengambil alih keunggulan bangsa barat tanpa harus menjadi orang barat, atau kita harus pandai-pandai menyaring budaya barat yang masuk ke Indonesia, intinya kita ambil yang baik dan buang yang jelek.

Dengan memahami pengertian modernisasi dan westernisasi jelaslah bahwa modernisasi bukanlah westernisasi dan sebaliknya westernisasi tidak harus dilakukan oleh Negara-negara yang sedang berada dalam perisai modernisasi saja.

* * * *

\”Ketika Gus Dur berkunjung ke Pondok kami, tiba-tiba beliau menanyai seorang santri yang sedang ada di dekatnya, \”Kang, menurutmu orang yang modern itu orang yang pake sepatu dan berjas necis atau orang yang pake sandal jepit dan pake sarung?, kontan saja santri itu kaget karena di tanyai oleh Gus Dur langsung, dan dengan Pedenya santri itu menjawab: \” Ya orang Modern itu orang yang pake sepatu dan berjas necis toh Gus!, \”Jawabmu salah”, kata Gus Dur”, Cerita ini di sampaikan langsung oleh KH.Masruri Abdul Mughni, pengasuh Ponpes Al-Hikmah 2 dalam sebuah Pengajian.

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa modern itu bukan di lihat dari tampilan, akan tetapi attitude atau Ahlaq.

Beberapa tahun terakhir, setelah globalisasi mulai diberlakukan di seluruh seantero dunia, memang banyak dampak positifnya bagi warga Negara Indonesia hususnya. Kadangkala orang cenderung menyebut era globalisasi ini sebagai zaman modern, akan tetapi seperti yang sudah saya tuturkan tadi, bahwa mayoritas masyarakat juga cenderung salah dalam menafsirkan modernisasi dalam kehidupan. Menurut mereka lebih cenderung ke westernisasi dari pada ke modernisasi. Akibatnya masyarakat lebih mementingkan ego mereka, dan mengabaikan kaidah dan ketentuan agama, mereka mengabaikan perintah agama untuk menutup aurat dan lain-lain, dan salah satu dampak negatif yang paling besar dalam dunia pendidikan adalah masyarakat sekarang itu menganggap bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang sudah “katrok” atau ketinggalan zaman, mereka lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah Favorit dan bergengsi tinimbang di Pesantren, padahal hakikatnya Pondok  Pesantren yang mengakar di indonesia itu malah keberadaannya  sangat menentukan masa depan bangsa, kok malah dibilang “Ndeso”?’.

Facebook Comments

   

  One Response

  1. kebanyakan orang memandang budaya barat seperti ice berg, sehingga pemikiran mereka sangatlah sempit dan melihat apa yang tampak diatasnya. Padahal sejatinya kebudayaan barat yang menjadi tonggak modernisasi itu digambarkan seluas, sebesar, dan sedalam apa yang ada di bawah ice berg. Huge, dan tak berbatas. Andai mereka memahaminya, tentu paradigma itu bisa dirubah.

    damai_wardani - September 16th, 2011 at 8:03 am